Blogger Widgets sang bintang - Remaja Berprestasi

sang bintang

Personality Of Star

Yang kamu lihat titik titik cahaya di atas  langit malam itu bukan seperti apa yang kamu lihat sebenarnya. Mereka sama sepertiku, kesepian. Jarang sekali melihat bintang sendiri. Bintang biasa hadir ramai-ramai menghiasi langit kota ini. Tapi apakah kalian tahu Mereka itu sendiri? mereka tidak sedekat seperti apa yang kalian lihat setiap harinya, ia lebih jauh jaraknyadari pada jarak pandangku terhadapnya. Jika mereka saling berdekatan bintang tidak akan menjadi bintang, mereka hanya akan menjadi gumpalan cahaya. Kalian mengerti?Sangat sedih ketika orang lain menilaiku tidak dengan kenyataannya. Sebagian orang yang mungkin saja ingin hidup sepertiku dengarkan ini. “dengan teramat jujur aku tidak ingin menjadi aku yang sekarang. Aku mohon berhenti memujiku, pujian itu membuat aku cemas.” mau dikatakan apalagi Manusia memang pantas dijuliki sebagai gunung es yang hanya 13 persen yaitu ujungnya saja yang terlihat. Itulah aku. Aku hampir menyerah mengikuti ketentuan demi ketentuan yang hadir dalam kehidupan ini, tidak ada yang menarik menurutku semuanya memang sudah diatur. Aku tidak punya pilihan, aku hanya perlu mengikutinya.Detak jarum jam semakin terdengar saat kelas ini semakin kosong. Kebisingan yang aku dengar sebelumnyahilang saat bell intirahat berbunyi 10 menit yang lalu. Aku tidak tergerak untuk bangkit dari kursiku, aku semakin merasakan kesendirian menjadi sesuatu hal yang nikmat. Dari ujung mataku, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu, kali ini aku tidak perlu berdiri karena aku tahu dia akan menghampiriku.“Kamu butuh oksigen?” Tanyanya dengan serius.“Kamu ngeledek?” Jawaban spontanitasku.“Kenapa? Ada yang salah?” Jawabnya sambil menaiki salah satu alisnya.“Tentu. Kamu tidak lihat sekarang? Apa sekarang kita di luar angkasa sampai kamumenawariku oksigen?” Jelasku dengan ketus.“Maksudmu?” Dia semakin keheranan.“Kamu ingin mmempermalukanku? Hal ini sama saja seakan aku harus mengatakan pada semua orang bahwa aku sendiri, akukesepian, aku bosan, aku benci hidupku. Hah, apa menurutmu ada yang percaya jika aku mengatakan itu?” Tuturku semakin jelas.“Bukan itu maksudku. Aku hanya menawarimu karena kamu manusia. Kamu bukan Binatang, Jin atau Alien. Kamu manusia dan kamu boleh mengeluh. Tidak ada yang salah jika temanmu tahu tentang kisah sedihmu, itu semua wajar” Jelas Arya.“Mungkin memang anggapanmereka itu benar. Kamu cukup cantik, cukup pintar, dan kamu punya daya tarik untuk orang lain menirumu” Lanjutnya lagi.“Pernahkah mereka berpikiran satu hal tentang hal yang tidak aku punya? Hal yang sebenarnya mereka dengan mudah mendapatkannya” Tanyaku pada Arya.“Apa itu?” Jawab Arya dengan penasaran.“Kebebasan.” Jawab singkatku membuat Arya bingung berkata-kata.“Renita, tidak ada yang menarik dari kebebasan. Kamu melihat preman, geng motor, anak PUNK? Ya mereka hidup dengan bebas. Itu yang kamu mau?” Kali ini aku terdiam, aku memikirkan kembali pada kata-kata Arya barusan. Semakin ku pikir semakin ada benarnya juga.“sekarang kamu punya jawaban?” Tanyanya lagi.“Tentu. Kali ini aku mengerti akan hal yang pertama kali aku pikirkan soal bintang yang berhamburan di atas langit. Sebenarnya jika jarak bintang berdekatan akan semakin sulit untuk menentukan bintang mana yang aku tunjuk. Karena bintang jauhlah ia menjadi bintang. Kejauhan itulah tempatnya untuk ia semakin kuat melihatkan sinarnya. Itulah aku.”
sang bintang sang bintang Reviewed by Unknown on 01.15 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Gambar tema oleh luoman. Diberdayakan oleh Blogger.